Anak Semua Bangsa (Pramoedya Ananta Toer)

Gambar Produk 1
Promo
Terlaris
Rp 10.000 Rp 5.000
Judul: Anak Semua Bangsa
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Hasta Mitra, 2002
Isi: 412 Halaman (5 MB)
Bahasa: Indonesia
Format: Ebook PDF

Buku ini merupakan seri kedua dari tetralogi Pulau Buru. Novel yang mengisahkan penderitaan masyarakat Jawa di bawah penjajahan Belanda. Bagian pertama, Pramoedya menceritakan kesedihan Annelies Mellema. Ketika dia pergi ke Belanda, Annelies sangat tertekan dan dia tidak ingin melakukan apapun. Kemudian dia jatuh sakit dan terlunta-lunta sebelum akhirnya meninggal dalam kondisi yang menyedihkan.

Selanjutnya Pram menguraikan kekejaman kapitalisme dan kolonialisme. Karakternya memotret seorang yang bengis yaitu bos pabrik gula bernama Frits Homerus Vlekkenbaaij yang diucapkan dengan menghina sebagai Plikemboh dalam bahasa Jawa. Dia seorang pemabuk, galak, dan suka main perempuan. Dia melihat Surati, anak perempuan dari salah satu pegawainya, ide jahatnya pun muncul. Suatu hari uang perusahaan hilang. Plikemboh dengan licik siap membantu Sastro, pegawai yang bertanggung jawab atas hilangnya uang itu. Syaratnya, Sastro harus memberikan anak perempuannya yaitu Surati kepadanya. Awalnya Surati dan ibunya menolak tetapi mereka terlalu lemah untuk melawan. Lalu Surati merencanakan balas dendam. Saat malam, dia pergi ke sebuah desa yang dikarantina karena wabah penyakit. Dia berhasil masuk desa itu walau sudah dijaga ketat. Di desa itu dia menemukan seorang bayi sekarat dengan orang tuanya yang mati di dekatnya terkena wabah penyakit. Sesaat setelah bayi itu meninggal di gandongannya, pagi harinya dia pergi menemui Plikemboh. Segera Plikemboh terinfeksi, dan beberapa hari kemudian keduanya meninggal.

Pramoedya juga menggambarkan kenistaan kaum petani. Pramoedya menceritakan seorang petani bernama Trunodongso. Suatu ketika dia diintimidasi sekelompok orang yang mengancamnya agar menyerahkan tanahnya kepada pabrik gula. Trunodongso memiliki lima petak tanah dan pabrik menyewa tiga petak selama 18 bulan tetapi dalam kenyataannya menjadi dua tahun tanpa persetujuannya memperpanjang kontrak untuk musim selanjutnya. Ditambah lagi, dia tidak pernah menerima uang sewa dalam jumlah penuh. Dia sepakat harga 11 picis tetapi dia hanya menerima 3 talen jadi dia kehilanga 35 sen.

Pramoedya juga membongkar praktek kotor kolonialisme dalam sebuah kasus pembunuhan. Herman Mellena berkonflik dengan pejabat daerah. Tiba-tiba pejabat itu menghilang. Ontosoroh terkejut ketika seorang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Rumor mengatakan bahwa mayat itu adalah pejabat daerah yang diserang oleh seekor banteng. Dia yakin itu adalah perbuatan kotor yang dilakukan oleh Mellema.

Pengaruh liberalisme Eropa digambarkan melalui pertemuan Pram dengan Ter Harr dalam perjalanan ke Semarang yang sedang bertugas untuk Koran De Locomotief. Dia menyuruh Minke, mata-mata penjajah mengungkap kasus korupsi Van Deventer dan Van den Berg atas uang milik kaum tani Jawa oleh keluarga kerajaan Belanda. Jumlahnya senilai 951 juta gulden. Zaman modern itu, modal adalah segala-galanya. Mereka mengendalikan perkebunan, kehutanan, transportasi, dan pertambangan. Siapapun yang berdiri menghadang mereka akan dihancurkan. Pabrik gula menjadi monster dan korbannya tidak terhitung. Sebagai contoh Van de Putte, ketika menjabat menteri dia mengeluarkan undang-undang gula. Yang terealisasi dengan penanaman tebu gula terbesar di Besuki-Bondowoso. Petani di Priangan juga menjadi mangsa mereka. Kerbau-kerbau petani yang berkeliaran bebas akhirnya mati keracunan dalam jumlah yang sangat banyak, segera wabah penyakit menyebar. Para petani dengan mudah dipaksa menyerahkan tanahnya. Penanaman teh berkembang ketika ternak orang-orang musnah. Minke berjanji melaporkan kasus ini di Koran. Kemudian Minke memberikan artikelnya kepada editor, namun Nijman, editornya menolak laporan itu.

Kejahatan kolonialisme lengkap dengan karakter Maurits Mellema, anak dari Herman Mellema dengan istri pertamanya. Dia merupakan salah satu orang yang mengambil alih perusahaan Ontosoroh karena pengadilan Amsterdam mengeluarkan putusan yang menetapkan dia sebagai ahli waris yang sah dari Herman Mellema.

Secara singkat, dalam buku ini Pramoedya memfokuskan opininya pada sisi negatif kapitalisme dan kolonialisme. Tidak mengherankan bahwa selama era orde baru di bawah Soeharto, buku ini dilarang beredar. Pemerintah waktu itu sangat khawatir bahwa buku ini mempromosikan faham komunisme.