Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis

Gambar Produk 1
Promo
Rp 20.000 Rp 10.000
Judul: Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis
Penulis: Muhlis Hadrawi
Penerbit: Ininnawa, 2008
Isi: 190 Halaman (28 MB)
Bahasa: Indonesia
Format: Ebook PDF Scan (teks tidak bisa dicopy)

Bagi manusia dewasa, Seks merupakan kebutuhan dasar. Untuk menyalurkan hasrat dasar tersebut, dibentuk lembaga pernikahan yang merupakan legalitas dari sebuah keluarga. Pada gilirannya, akan terjadi reproduksi untuk mengembangkan keturunan dan mencegah ras manusia dari kepunahan. Assikalabineng, merupakan pengetahuan tata cara hubungan seksual, yang merupakan adaptasi dari ajaran Islam. Dalam tata cara itu memuat banyak hal, mulai dari waktu yang baik, hingga rekayasa keturunan.

Pengetahuan assikalabineng, pada dasarnya diketahui secara rahasia oleh orang-orang tua. Sehingga akses pengetahuan seksual sangat terbatas. Assikalaibineng, disampaikan secara tutur kepada kedua calon mempelai sebagai bentuk Sex Education menjelang acara pernikahannya. Beberapa hari sebelum hari pernikahan, biasanya kedua calon mempelai dipingit. Masa itu disebut dengan arafo-rafong. Masa dimana calon pengantin harus lebih banyak dirumah dan tidak keluar rumah kalau bukan sesuatu yang sangat penting. Masa Arafo-rafong memberikan makna agar sebelum menikah, sang calon mempelai belajar kepada orang-orang tua tentang Assikalaibineng. Selain itu memberi makna agar calon pengantin mempunyai banyak waktu untuk mempersiapkan dirinya lahir dan batin untuk memasuki dunia mahligai rumah tangga.

Beberapa penulis mendokumentasikan pengetahuan Assikalabineng dalam bentuk naskah Lontara yang dikenal dengan Lontara Assikalabineng. Lontara Assikalabineng adalah salah satu genre lontara. Sehingga sebenarnya banyak Lontara Assikalabineng yang pernah ditulis. Meski secara garis besar sama, namun secara detail ada sedikit perbedaan. Hal ini disebabkan pengetahuan Assikalabineng secara detail antar penulis berbeda.

Ada beberapa poin penting dalam Assikalaibineng antara lain :
- Waktu-waktu yang dianggap baik untuk melakukan persetubuhan.
- Pengetahuan tentang alat reproduksi. Ragam bentuk alat reproduksi.
- Tahap dan prosedur hubungan seks. Secara umum ada 12 gerakan selama satu kali hubungan seks yang sempurna. Tiap gerakan memestikan doa-doa tertentu.
- Gaya dalam persetubuhan.
- Tujuh titik rangsangan perempuan dan teknik penyentuhannya.
- Penentuan jenis kelamin anak. Termasuk pula penentuan warna kulit bahkan sikap dan prilaku anak.
- Pengendalian kehamilan.
- Perlakuan yang berhubungan dengan seks lainnya.

Secara umum, yang ditekankan pada Assikalaibineng pada pihak suami adalah kemampuannya untuk mengendalikan hasrat dan keinginannya. Sehingga lelaki yang tidak mampu mengelola kemampuannya disinggung dalam Galigo Satir, yang diucap perempuan yaitu

Mauni tellu pabbisena = Meski tiga pengayuhnya (organ seksual lelaki)
Na Bongngo Pollopinna = Tapi bodoh pengendalinya (tidak tenang dalam melakukan)
Teawa Nalureng = Saya tidak ingin dimuat (tidak ingin diperistri)

Dalam buku Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis karangan Dr. Muhlis Hadrawi, mengkompilasi 8 naskah lontara dengan menggunakan pendekatan kajian Filologi. Ada tiga naskah Lontara Assikalaibineng yang ditransliterasi di buku ini lalu diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Sehingga memudahkan pembaca memahaminya.