Manusia Bebas (Suwarsih Djojopuspito)

Gambar Produk 1
Promo
Terlaris
Rp 10.000 Rp 5.000
Judul: Manusia Bebas
Penulis: Suwarsih Djojopuspito
Penerbit: Djambatan, 2000
Isi: 316 Halaman (6 MB)
Bahasa: Indonesia
Format: Ebook PDF Scan (teks tidak bisa dicopy)

Harapan Sulastri hilang. Hatinya pedih menerima kenyataan bahwa naskah yang ditulisnya ditolak oleh Balai Pustaka. Rasa malu, marah, dan sedih bergemuruh di dalam hatinya. Dalam kekalahannya ia berbisik di atas kertas yang kosong, "inspirasi, datanglah kemari. Tidak, tidak, kehidupanku sendiri harus menjadi inspirasiku. Aku hanya mengenangkan, aku harus mengenangkannya." Dengan segera kenangan-kenangan menjadi barisan kalimat dalam sehelai kertas.

Sulastri alias Suwarsih Djojopuspito menuliskan segala kenangan di antara tahun 1933-1937 dalam novelnya berjudul Buiten Het Gareel. Karyanya ini pertama kali diterbitkan di Belanda pada tahun 1940. Barulah pada tahun 1975 buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan tajuk Manusia Bebas. Karya ini merupakan roman pertama yang dituliskan oleh seseorang berkebangsaan Indonesia dalam bahasa Belanda. Serupa, tetapi tak sama dengan Kartini, Suwarsih mengabadikan perjuangan dan lika-likunya menggunakan pena yang sudut pandang utamanya dari seorang perempuan.

Bahasa Belanda dipilih oleh Suwarsih tatkala bukunya yang ia tulis menggunakan bahasa Sunda ditolak oleh penerbit. Ceritanya dianggap “tak berguna dan tak mempunyai bentuk menurut tradisi, jadi tak mempesonakan oleh karena tak memberi jawaban pada idam-idaman kekanak-kanakan dari seorang guru desa.” Realita pahit ini tertuang dalam halaman-halaman awal Manusia Bebas. “Dar, inilah titik peralihan dalam hidupku. Aku telah berpisah dengan bahasa Sunda,” lirihnya.

Membaca Manusia Bebas terasa seperti membaca catatan harian Suwarsih. Sebagai novel autobiografis, Suwarsih menorehkan perjalanan hidupnya mulai dari awal pernikahannya dengan Soegondo Djojopuspito hingga perjuangan panjang mereka mewujudkan cita-cita. Semua kisah ini dituliskan berdasarkan kenangan yang ada dengan mengganti nama-nama asli, seperti namanya menjadi Sulastri dan suaminya bernama Sudarmo.

Dengan pengemasan tulisan yang ringan, roman ini seakan terlihat mengemukakan hal yang cetek-cetek dan hanya tampak sebagai suatu laporan saja karena tidak mengikuti bentuk karangan pada umumnya yang biasanya terdapat suatu bagian yang menampakkan ketegangan dramatis. Namun, ini merupakan pandangan yang mesti ditepis. Dengan kelihaiannya menulis, Suwarsih mengajak masuk para pembacanya untuk melihat sifat-sifat manusia dalam lingkup pergerakan sekaligus juga menjadi saksi akan suatu masa. Romantisme perjuangan yang menempel dalam benak masyarakat Indonesia nyatanya lebih ruwet dari nampaknya sepintas lalu. Keruwetan tersebut dilukiskan dengan jelas dan nyata oleh Suwarsih. Selaras dengan pernyataan Aquarini Priyatna dalam Suwarsih Djojopuspito: Menciptakan Subjek Feminis Nasionalis melalui Narasi Autobiografis, “baik buku harian dan novel yang sedang ditulis sang tokoh maupun tulisan yang ditulis oleh Suwarsih mempunyai nilai sejarah dan yang penting bukan saja dalam konteks kenegaraan dan pergerakan nasional, melainkan juga sebagai potret kehidupan perempuan “intelektuil” yang harus bermanuver dalam kondisi pergerakan nasionalis dan/di dalam ruang domestiknya.”

Kehidupan seorang perempuan nasionalis yang telah bersuami serta pergerakan nasional melalui pendidikan menjadi dua tema dalam karangan ini. Semuanya penuh dengan perjuangan. Pasangan Sulastri dan Sudarmo tidak hanya mesti berjuang mempertahankan cita-cita, tetapi juga mempertahankan pernikahan serta keberlangsungan hidup mereka.

“Begitulah orang-orang kita,” ujar Sudarmo pada suatu waktu. “Ingin berkorban, penuh pengabdian, akan tetapi karena kesukaran sehari-hari, mereka menjadi seperti mati, menyerahkan diri pada nasibnya sendiri-sendiri.” Sulastri dan Sudarmo sama-sama memilih untuk keluar jalur dan menjadi bebas dalam upayanya mewujudkan cita-cita. Berlainan dengan jalan yang umum ditempuh pada masa itu, yakni menjadi seorang gupernemen dan bekerja sebagai pegawai dalam belenggu pemerintah Belanda, mereka memilih menjadi guru dalam dunia sekolah liar yang tak menentu kehidupannya.

Sejoli nasionalis ini memutuskan untuk hidup sebagai ‘proletar intelektual’, meskipun ada harga mahal yang mesti dibayar. Mereka hidup tanpa kepastian akan hari esok. Terkadang mereka harus berpindah dari satu kota ke kota lain demi menyambung hidup dan melanjutkan perjuangan. Belum lagi persoalan perut yang mesti diisi dengan bahan seadanya. Meskipun begitu, Sulastri bangga hidup melarat demi kepentingan nasional. Ia mencintai suaminya dan rela mengorbankan diri untuk mengabdi kepada perguruan nasional.

Manusia Bebas memberikan ruang kepada pembacanya untuk turut melihat konflik identitas yang dialami oleh Sulastri. Sebagai seorang perempuan, ia memiliki peran bukan hanya sebagai seorang istri dan ibu, melainkan juga seorang nasionalis dan feminis. Pada masa kebangkitan nasional, semangat perjuangan tidak hanya ditujukan untuk kemerdekaan, tetapi juga terhadap nasib perempuan. Banyak tokoh maupun organisasi wanita yang menyokong gerakan ini. Akan tetapi, berbeda dengan pelajaran sejarah nasional yang biasanya hanya sekedar menggambarkan situasi pergerakan secara umum, melalui novel autobiografis ini, Suwarsih menggali lebih dalam perbedaaan-perbedaan pandangan dalam gerakan nasional dan perempuan.

Satu pandangan di antaranya ialah mengenai keperempuanan. Sulastri merupakan perempuan yang menyukai hal-hal yang cantik; sesuatu yang kiranya merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, kesukaannya ini kerap dicemooh oleh suaminya dengan menyebutnya sebagai seorang ‘borjuis’. Marti, kakak Sulastri, juga memandang sebelah mata kesukaannya yang kerap membaca roman dan menulis puisi. “Selalu roman-roman. Bacalah buku-buku yang lebih baik, apa yang berguna untuk pergerakan wanita kita,” ejeknya.

Hal ini menjadi sesuatu yang menarik untuk dipahami sebab memberikan gambaran atas ketidaksetujuan Suwarsih/Sulastri terhadap pandangan bahwa menjadi seorang yang aktif dalam pergerakan wanita berarti membuang begitu saja segala hal yang dianggap ‘feminim.’ Di akhir buku pun Sulastri menyindir hal ini; “Lantas apa dong yang harus kubikin, kalau aku sedang girang, Dar? Kueh untuk Rustini? Apakah PID dan pergerakan wanita akan mengizinkannya, kalau aku sekarang membuat kueh untuk Rustini?”

Beberapa dekade lamanya sejak buku ini pertama terbit, pertanyaan yang diajukan oleh Sulastri bahwa “apakah untuk Indonesia ia menulis itu?” masih memiliki jawaban yang sama. Melalui Manusia Bebas, Suwarsih Djojopuspito telah membuka lebih besar wawasan kesejarahan Indonesia dan memberikan ruang akan narasi perjuangan nasional dari kacamata seorang wanita.