How The Mighty Fall: And Why Some Companies Never Give In
Judul: How The Mighty Fall: And Why Some Companies Never Give In
Penulis: Jim Collins
Penerbit: Collins Business, 2011
Isi: 240 Halaman (2 MB)
Bahasa: Inggris
Format: Ebook EPUB
Di tengah lanskap suram perusahaan-perusahaan besar yang telah runtuh, Jim Collins mulai bertanya-tanya: Bagaimana perusahaan-perusahaan besar bisa jatuh? Dapatkah penurunan dideteksi sejak dini dan dihindari? Seberapa jauh sebuah perusahaan dapat jatuh sebelum jalan menuju kehancuran menjadi tak terhindarkan dan tak tergoyahkan? Bagaimana perusahaan dapat membalikkan arah?
Dalam buku How the Mighty Fall, Collins membahas pertanyaan-pertanyaan ini, menawarkan kepada para pemimpin harapan yang beralasan bahwa mereka dapat belajar bagaimana mencegah penurunan dan, jika mereka mendapati diri mereka jatuh, membalikkan arah. Proyek penelitian Collins —yang berlangsung lebih dari empat tahun— mengungkapkan lima tahapan penurunan bertahap:
Tahap 1: Kesombongan yang Lahir dari Kesuksesan
Tahap 2: Pengejaran yang Tidak Disiplin untuk Mendapatkan Lebih Banyak
Tahap 3: Penolakan Risiko dan Bahaya
Tahap 4: Berusaha Menyelamatkan Diri
Tahap 5: Menyerah pada Ketidakrelevanan atau Kematian
Dengan memahami tahapan-tahapan penurunan ini, para pemimpin dapat secara substansial mengurangi peluang mereka untuk jatuh hingga ke titik terendah. Perusahaan-perusahaan besar dapat tersandung, sangat parah, dan pulih.
Setiap institusi, betapapun hebatnya, rentan terhadap kemunduran. Tidak ada hukum alam yang menyatakan bahwa yang terkuat akan selalu tetap berada di puncak. Siapa pun bisa jatuh dan sebagian besar pada akhirnya memang jatuh. Tetapi, seperti yang ditekankan oleh penelitian Collins, beberapa perusahaan memang pulih —dalam beberapa kasus, bahkan kembali lebih kuat— bahkan setelah jatuh ke jurang Tahap 4.
Kemunduran, ternyata, sebagian besar disebabkan oleh diri sendiri, dan jalan menuju pemulihan sebagian besar berada di tangan kita sendiri. Kita tidak terkurung oleh keadaan kita, sejarah kita, atau bahkan kekalahan telak kita di sepanjang jalan. Selama kita tidak pernah sepenuhnya tersingkir dari permainan, harapan selalu ada. Yang perkasa bisa jatuh, tetapi mereka sering kali bisa bangkit kembali.
Penulis: Jim Collins
Penerbit: Collins Business, 2011
Isi: 240 Halaman (2 MB)
Bahasa: Inggris
Format: Ebook EPUB
Di tengah lanskap suram perusahaan-perusahaan besar yang telah runtuh, Jim Collins mulai bertanya-tanya: Bagaimana perusahaan-perusahaan besar bisa jatuh? Dapatkah penurunan dideteksi sejak dini dan dihindari? Seberapa jauh sebuah perusahaan dapat jatuh sebelum jalan menuju kehancuran menjadi tak terhindarkan dan tak tergoyahkan? Bagaimana perusahaan dapat membalikkan arah?
Dalam buku How the Mighty Fall, Collins membahas pertanyaan-pertanyaan ini, menawarkan kepada para pemimpin harapan yang beralasan bahwa mereka dapat belajar bagaimana mencegah penurunan dan, jika mereka mendapati diri mereka jatuh, membalikkan arah. Proyek penelitian Collins —yang berlangsung lebih dari empat tahun— mengungkapkan lima tahapan penurunan bertahap:
Tahap 1: Kesombongan yang Lahir dari Kesuksesan
Tahap 2: Pengejaran yang Tidak Disiplin untuk Mendapatkan Lebih Banyak
Tahap 3: Penolakan Risiko dan Bahaya
Tahap 4: Berusaha Menyelamatkan Diri
Tahap 5: Menyerah pada Ketidakrelevanan atau Kematian
Dengan memahami tahapan-tahapan penurunan ini, para pemimpin dapat secara substansial mengurangi peluang mereka untuk jatuh hingga ke titik terendah. Perusahaan-perusahaan besar dapat tersandung, sangat parah, dan pulih.
Setiap institusi, betapapun hebatnya, rentan terhadap kemunduran. Tidak ada hukum alam yang menyatakan bahwa yang terkuat akan selalu tetap berada di puncak. Siapa pun bisa jatuh dan sebagian besar pada akhirnya memang jatuh. Tetapi, seperti yang ditekankan oleh penelitian Collins, beberapa perusahaan memang pulih —dalam beberapa kasus, bahkan kembali lebih kuat— bahkan setelah jatuh ke jurang Tahap 4.
Kemunduran, ternyata, sebagian besar disebabkan oleh diri sendiri, dan jalan menuju pemulihan sebagian besar berada di tangan kita sendiri. Kita tidak terkurung oleh keadaan kita, sejarah kita, atau bahkan kekalahan telak kita di sepanjang jalan. Selama kita tidak pernah sepenuhnya tersingkir dari permainan, harapan selalu ada. Yang perkasa bisa jatuh, tetapi mereka sering kali bisa bangkit kembali.
