Other Minds: The Octopus, the Sea, and the Deep Origins of Consciousness
Judul: Other Minds: The Octopus, the Sea, and the Deep Origins of Consciousness
Penulis: Peter Godfrey-Smith
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux, 2016
Bahasa: Inggris
Format: Ebook EPUB
Ukuran: 5 MB (273 Halaman)
Meskipun mamalia dan burung secara luas dianggap sebagai makhluk paling cerdas di bumi, belakangan ini menjadi jelas bahwa cabang yang sangat jauh dari pohon kehidupan juga telah mengembangkan kecerdasan tinggi: yaitu sefalopoda, yang mencakup cumi-cumi, sotong, dan terutama gurita. Dalam penangkaran, gurita diketahui mampu mengenali penjaga manusia secara individu, menyerbu akuarium tetangga untuk mencari makanan, mematikan lampu dengan menyemprotkan air, menyumbat saluran pembuangan, dan melakukan pelarian yang berani. Bagaimana mungkin makhluk dengan kemampuan luar biasa seperti itu berevolusi melalui garis keturunan yang secara radikal berbeda dari kita? Apa maknanya bahwa evolusi menciptakan pikiran bukan hanya sekali, melainkan setidaknya dua kali? Gurita adalah hal terdekat yang bisa kita alami untuk bertemu dengan makhluk luar angkasa yang cerdas. Apa yang bisa kita pelajari dari pertemuan tersebut?
Dalam buku *Other Minds*, Peter Godfrey-Smith—seorang filsuf sains terkemuka sekaligus penyelam scuba yang andal—menuturkan kisah baru yang berani tentang bagaimana pengalaman subjektif mulai muncul—bagaimana alam menjadi sadar akan dirinya sendiri. Sebagaimana ditekankan oleh Godfrey-Smith, ini adalah kisah yang sebagian besar terjadi di lautan, tempat hewan pertama kali muncul. Dengan menelusuri perkembangan pikiran yang tidak berjalan mulus, Godfrey-Smith memperlihatkan bagaimana kumpulan sel laut yang tak teratur mulai hidup bersama dan menjadi mampu melakukan penginderaan, tindakan, dan pemberian sinyal. Seiring organisme primitif ini semakin saling terkait dengan organisme lain, struktur mereka pun menjadi lebih rumit. Sistem saraf pertama berevolusi, kemungkinan pada kerabat purba ubur-ubur; kemudian, sefalopoda—yang awalnya merupakan moluska biasa—meninggalkan cangkang mereka dan bergerak meninggalkan dasar laut untuk mencari mangsa, sembari mengembangkan kecerdasan lebih tinggi yang diperlukan untuk aktivitas tersebut. Mengambil jalur yang berbeda, mamalia dan burung kemudian memulai perjalanan evolusi mereka sendiri.
Namun, kecerdasan seperti apa yang dimiliki sefalopoda? Dengan merujuk pada penelitian ilmiah terkini dan pengalaman menyelamnya sendiri, Godfrey-Smith mengupas berbagai misteri seputar garis keturunan ini. Bagaimana gurita—makhluk penyendiri dengan kehidupan sosial yang minim—bisa menjadi begitu cerdas? Seperti apa rasanya memiliki delapan tentakel yang begitu padat dengan neuron hingga tentakel-tentakel itu seolah "berpikir sendiri"? Apa yang terjadi ketika beberapa gurita meninggalkan gaya hidup menyendiri mereka dan berkumpul bersama, seperti yang mereka lakukan di lokasi unik di lepas pantai Australia? Dengan menelusuri akar persoalan kehidupan batin dan membandingkan manusia dengan kerabat hewan kita yang paling luar biasa, Godfrey-Smith memberikan wawasan baru yang krusial mengenai pikiran gurita—serta pikiran kita sendiri.
Penulis: Peter Godfrey-Smith
Penerbit: Farrar, Straus and Giroux, 2016
Bahasa: Inggris
Format: Ebook EPUB
Ukuran: 5 MB (273 Halaman)
Meskipun mamalia dan burung secara luas dianggap sebagai makhluk paling cerdas di bumi, belakangan ini menjadi jelas bahwa cabang yang sangat jauh dari pohon kehidupan juga telah mengembangkan kecerdasan tinggi: yaitu sefalopoda, yang mencakup cumi-cumi, sotong, dan terutama gurita. Dalam penangkaran, gurita diketahui mampu mengenali penjaga manusia secara individu, menyerbu akuarium tetangga untuk mencari makanan, mematikan lampu dengan menyemprotkan air, menyumbat saluran pembuangan, dan melakukan pelarian yang berani. Bagaimana mungkin makhluk dengan kemampuan luar biasa seperti itu berevolusi melalui garis keturunan yang secara radikal berbeda dari kita? Apa maknanya bahwa evolusi menciptakan pikiran bukan hanya sekali, melainkan setidaknya dua kali? Gurita adalah hal terdekat yang bisa kita alami untuk bertemu dengan makhluk luar angkasa yang cerdas. Apa yang bisa kita pelajari dari pertemuan tersebut?
Dalam buku *Other Minds*, Peter Godfrey-Smith—seorang filsuf sains terkemuka sekaligus penyelam scuba yang andal—menuturkan kisah baru yang berani tentang bagaimana pengalaman subjektif mulai muncul—bagaimana alam menjadi sadar akan dirinya sendiri. Sebagaimana ditekankan oleh Godfrey-Smith, ini adalah kisah yang sebagian besar terjadi di lautan, tempat hewan pertama kali muncul. Dengan menelusuri perkembangan pikiran yang tidak berjalan mulus, Godfrey-Smith memperlihatkan bagaimana kumpulan sel laut yang tak teratur mulai hidup bersama dan menjadi mampu melakukan penginderaan, tindakan, dan pemberian sinyal. Seiring organisme primitif ini semakin saling terkait dengan organisme lain, struktur mereka pun menjadi lebih rumit. Sistem saraf pertama berevolusi, kemungkinan pada kerabat purba ubur-ubur; kemudian, sefalopoda—yang awalnya merupakan moluska biasa—meninggalkan cangkang mereka dan bergerak meninggalkan dasar laut untuk mencari mangsa, sembari mengembangkan kecerdasan lebih tinggi yang diperlukan untuk aktivitas tersebut. Mengambil jalur yang berbeda, mamalia dan burung kemudian memulai perjalanan evolusi mereka sendiri.
Namun, kecerdasan seperti apa yang dimiliki sefalopoda? Dengan merujuk pada penelitian ilmiah terkini dan pengalaman menyelamnya sendiri, Godfrey-Smith mengupas berbagai misteri seputar garis keturunan ini. Bagaimana gurita—makhluk penyendiri dengan kehidupan sosial yang minim—bisa menjadi begitu cerdas? Seperti apa rasanya memiliki delapan tentakel yang begitu padat dengan neuron hingga tentakel-tentakel itu seolah "berpikir sendiri"? Apa yang terjadi ketika beberapa gurita meninggalkan gaya hidup menyendiri mereka dan berkumpul bersama, seperti yang mereka lakukan di lokasi unik di lepas pantai Australia? Dengan menelusuri akar persoalan kehidupan batin dan membandingkan manusia dengan kerabat hewan kita yang paling luar biasa, Godfrey-Smith memberikan wawasan baru yang krusial mengenai pikiran gurita—serta pikiran kita sendiri.
